Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Maret 28, 2009

Tanggul Situ Gintung Biasa Jadi Tempat Berpacaran

TANGERANG - Tanggul Situ Gintung yang Jumat pagi kemarin jebol dan menewaskan puluhan warga setempat, ternyata biasa dijadikan tempat berpacaran pasangan muda-mudi dari berbagai tempat.

Mulai pukul 07.00 WIB, biasanya pasangan muda yang sedang memadu kasih ini mulai memadati tanggul buatan Belanda ini. Semakin malam akan semakin ramai. Mereka duduk bersama pasangan mereka sambil menatap danau yang indah diterpa sinar rembulan.

Fauzi (23), warga yang biasa melintas di atas tanggul itu mebenarkan informasi tersebut. Menurutnya setiap kali pulang kuliah dan hendak menuju rumahnya yang berada di sisi timur danau, dia selalu menemukan pasangan muda yang tengah berpacaran.

"Bahkan mereka berjajar di sepanjang tanggul," tutur Fauzi kepada okezone, Sabtu (28/3/2009). Dia menambahkan, orang-orang yang berpacaran itu juga biasa memarkirkan kendaraan roda dua mereka di tepi tanggul yang sekalian dijadikan alas duduk mereka berdua.

Menurutnya, tanggul yang lebar jalannya tidak lebih dari dua meter ini nampaknya sengaja dipilih oleh pasangan-pasangan itu. Selain tak dipungut biaya alias gratis, keindahan danau bisa membuat aktivitas berpacaran mereka lebih romantis.

Sekedar di ketahui, di areal Situ Gintung yang luasnya mencapai lima hektar ini terdapat pula tempat rekreasi resmi yang dikelola berupa restoran, outbond dan wisata air. Untuk mendapatkan fasilitas itu warga harus merogoh koceknya meski relatif murah. Karena itu, tanggul Situ Gintung ini bisa menjadi tempat wisata alternatif. Tak ada rotan akar pun jadi.

Kini, setelah tanggul itu jebol, tampaknya puluhan pasangan yang rata-rata mahasiswa perguruan tinggi di sekitar Ciputat dan warga setempat itu terpaksa harus mencari tempat romantis lain.(ded)



Read more...

Petaka Dini Hari Korban Tewas Mencapai 65 Orang, 98 Orang Masih Dicari


Akibat hujan deras yang turun selama lima jam pada Kamis (26/3) malam, tanggul Situ Gintung, Cirendeu, Tangerang Selatan, jebol, Jumat sekitar pukul 05.00. Wilayah seluas 10 hektar di Cirendeu menjadi porak-poranda diterjang air bah yang datang seperti tsunami. Tanggul dari tanah itu kembali runtuh sekitar pukul 13.00.

Sampai dengan pukul 22.00, data di Posko Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Posko Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Achmad Dahlan menunjukkan jumlah korban tewas mencapai 65 orang, 98 orang hilang, 52 orang cedera, dan 25 orang dirawat di Rumah Sakit Fatmawati. Sebagian besar korban yang tewas adalah perempuan dan anak-anak.

Pada Jumat malam bau anyir tercium begitu menyusuri jalan di samping Kampus UMJ. Kawasan itu gelap karena aliran listrik dimatikan. Warga memakai ratusan lilin dan pelita yang dibuat dari botol bekas minuman ringan yang diletakkan di beberapa tempat untuk penerangan. Sementara itu, warga yang ingin membersihkan rumahnya masih kesulitan karena beberapa kali aliran air bersih dari PAM mati.

Jebolnya tanggul buatan Belanda tahun 1932-1933 ini menghancurkan perumahan warga di Kampung Poncol dan Kampung Gintung. Sekitar 300 rumah yang ada di wilayah itu rusak dan hancur. Sementara itu, banjir melanda Perumahan Bukit Pratama dan Perumahan Cirendeu Permai yang terletak di tepi Kali Pesanggrahan.

Meskipun lokasi Situ Gintung sendiri terletak di RW 11 Kampung Gunung, Kelurahan Cirendeu, kampung itu tak terkena empasan air. Kampung Gunung yang ditinggali 2.600 warga (700 keluarga) terletak di lokasi yang lebih tinggi ketimbang Kampung Poncol dan Kampung Gintung.

Belasungkawa

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla atas nama pemerintah menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban. Pemerintah menyatakan akan menyantuni semua korban dan membantu pembangunan rumah warga yang rusak.

Wapres Jusuf Kalla yang tiba di tempat kejadian sekitar pukul 10.00 langsung mengadakan rapat darurat di kantin UMJ bersama Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

Kalla mengatakan, pemerintah segera membangun tanggul permanen dengan konstruksi yang lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Pemerintah juga akan melihat kemungkinan kembali penataan kawasan tersebut. Selain itu, juga akan dijajaki kemungkinan dilakukannya relokasi warga yang selama ini tinggal di kawasan padat di pinggir aliran sungai tempat saluran pembuangan Situ Gintung.

Presiden Yudhoyono yang baru kembali dari Bandung setelah berkampanye sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat kemudian menyusul ke lokasi. Kunjungan Presiden ke lokasi bencana sekitar 30 menit sebelum berangkat menuju lokasi kampanye di Serang, Banten.

Seperti tsunami

Jebolnya tanggul Situ Gintung ini seperti tsunami karena air datang tiba-tiba. ”Suaranya bergemuruh besar sekali,” kata Cecep (63), warga Kampung Gintung.

Didi Sutardi (42), warga RT 01 RW 11 Kampung Gunung, menuturkan, sekitar pukul 02.00 dia sempat melintasi tepian tanggul yang belum jebol. Didi menyaksikan tiga warga tengah berupaya membersihkan salah satu pintu air dari sampah supaya aliran air lebih lancar.

”Saya lihat air danau tenang sekali, aneh. Biasanya beriak. Ini benar-benar tenang. Dan tepi danau sepi sekali enggak ada orang nongkrong. Biasanya di sini sampai dini hari selalu ramai. Mungkin karena malamnya hujan,” tutur Didi.

Saki Mulyadi (45) yang tinggal di dekat tanggul mengatakan, sejak pukul 22.00 ia mendengar suara bebatuan dan tembok tanggul rontok sedikit demi sedikit. Tanggul tiba-tiba pecah dan air bah keluar dari lubang selebar 70 meter. Ratusan rumah yang ada di sekitar tanggul yang terletak agak ke bawah langsung tersapu. Sebagian besar korban yang tewas dan hilang karena tak sempat menyelamatkan diri. Sebagian warga juga masih dalam keadaan tidur.

Di depan Masjid Jabarul Rohmah, air bah terbelah dua, tetapi tidak merobohkan masjid tersebut. Jembatan selebar satu meter yang biasa digunakan warga untuk menyeberang atau memancing ikan, dan biasa dilalui motor, ikut hilang terseret derasnya arus.

Akibat jebolnya tanggul, terlihat air situ yang kedalamannya mencapai 10 meter nyaris habis terkuras. Air hanya tersisa dalam cekungan kecil yang masih ada di dasar situ. ”Air datang cepat sekali. Saya sempat menggendong istri, tapi lalu terlepas kena terjang air. Saya hanyut, tetapi selamat. Istri meninggal sudah ditemukan,” kata Cecep.

Seperti juga warga lainnya, Cecep tak mengira tanggul akan jebol meski hujan turun deras sejak Kamis.

Johana (29), warga RT 01 RW 08 Kampung Gintung, mengatakan, banyak warga Kampung Gunung yang tinggal di bawah tanggul sudah tahu ada tanda-tanda banjir karena air sudah mulai menggenangi rumah warga. Warga pun mulai mengungsikan barang-barang mereka.

”Makanya sebagian besar warga Kampung Gunung selamat karena sudah tahu,” kata Johana.

Saderih (55), Ketua RW 11 Kampung Gunung, Cirendeu, mengatakan, sejak 10 tahun terakhir Situ Gintung sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda rusak. Tanggul tampak mulai retak. Sekitar tujuh bulan lalu danau direhabilitasi dengan dikeruk. Namun, sebulan lalu, proyek itu berhenti meskipun belum selesai.

”Warga sempat protes karena baru dikeruk doang, belum dipasang turap dan konblok. Saya enggak tahu alasannya kenapa dihentikan. Padahal, dua pintu air yang rusak juga belum dibetulkan. Tanggul pintu air utama yang juga retak-retak itulah yang sekarang akhirnya jebol,” kata Saderih.

Tanggul pintu air utama yang jebol itu diperkirakan selebar 15 meter. Menurut Saderih, tanggul itu sudah sangat tua dan diperkirakan sudah sejak zaman Belanda. Di sisi kanan dan kiri tanggul pintu air utama itu terdapat dua pintu air yang juga tak berfungsi. Pintu-pintu air itu mengalirkan air dari danau ke Kali Pesanggrahan.

Sekitar pukul 18.00 pencarian dihentikan karena kondisi gelap gulita dan angin kencang, serta gerimis mulai turun. Pencarian akan dilanjutkan pada Sabtu pagi. Lokasi bencana dikerumuni warga hingga petang. Hal itu menyulitkan proses evakuasi jenazah dan logistik bantuan yang harus melalui jalan-jalan kecil.

Keluarga yang kehilangan anggota keluarganya mendaftarkan nama-nama yang dicari di Posko PMI, baik yang bertempat di UMJ maupun STIE Achmad Dahlan. Adapun beberapa jenazah yang telah dikenali dimakamkan hari Jumat sore. Sebanyak sembilan jenazah dimakamkan dalam satu liang lahat di Raudatul Jannah, di belakang STIE Achmad Dahlan, pukul 17.00.(PIN/SF/CAL/HAR/TRI/WIN/RAY/ARN)


Sumber : Kompas Cetak

Read more...

Inilah 58 Korban Tewas di Situ Gintung


JAKARTA, KOMPAS.com — Berdasar informasi dari S Sutisna dari Posko Polda Metro Jaya di STIE Ahmad Dahlan hingga pukul 16.00 korban tewas akibat tanggul jebol Situ Gintung, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Tangerang, mencapai 58 orang.

Korban di Posko STIE Ahmad Dahlan 21 orang dan STIE UMJ 33 orang dan 4 orang masih dalam proses identifikasi.

21 Korban di Posko STIE Ahmad Dahlan :

1. Adinda Nursifaisyah (6) dibawa keluarga

2. Jafar Subhi (17) RS Fatmawati

3. Mimin bin Cecep (60)

4. Sugino (25) dibawa keluarga

5. Sundari (50) RS Fatmawati

6. Satimah (54) RS Fatmawati

7. Liarti (27) Posko STIE

8. Fahrurozy (25) RS Fatmawati

9. Yuni (17) RS Fatmawati

10. Buluk alias Sholeh (25) dibawa keluarga

11. Maman (20) dibawa keluarga

12. Shanti (SD Caritas kelas 6)

13. Asih (RS Fatmawati)

14. Mr X (idem)

15. Mr X (idem)

16. Mr X (idem)

17. Mr X (idem)

18. Mr X (idem)

19. Mr X (idem)

20. Tan Pyuh / Tan Pungut (97)

21. Ny. Burhan (45)



Korban di Posko UMJ 33 Orang:

1. Dahlia (68)

2. Syiren (10) Kel. Samin

3. Rusmiati Kel. Samin

4. Bela Kel. Samin

5. Ibu Eni Kel. Samin

6. Sri (8)

7. Ibu Nisa

8. Ibu Lia

9. Ibu Komariah

10. Ema

11. Ibu Aisyah

12. Hilmi (mahasiswa Fak. Agama Islam UMJ, 19 th)

13. Metta (mahasiswa Fak. Agama Islam UMJ, 19 th)

14. Ibu Roni

15. Agus Firmansyah (26)

16. Gunawan (40)

17. Sarah (6)

18. Carsun (19) RS Fatmawati

19. Hj. Jalinah

20. Bapak Ali (50)

21. Ny. Kamino (40)

22. Ibu Jus (40)

23. Puji Lestari (hamil 8 bulan) RS Fatmawati

24. Siti Rohani

25. Sutarmi (53)

26. Indah

27. Ari Wibowo (RS Fatmawati)

28. Kholil (70)

29. Rara, bayi 6 bulan (RS Fatmawwati)

30. Nurlina (23)

31. Clara (45)

32. Riana (25)

33. Tri Binti Jaya



Korban selamat dari UMJ:

1. Putut (28)

2. Siamih bin Sairan (10)

3. Hj. Amin (23)

4. Riza Kuizah (30)

5. Fahri (12)

6. Yongki (10)

7. Bpk Tampong (35)

8. Bpk Radit (35)

9. Bp Fathullah (67)

10. Satria (bayi 40 hari)

11. Ilham (42)

12. Ari (29)

13. Syafrudin (12)

14. Jana (45)

15. Runul Ikhsan (23)

16. Zahilman 58

17. Ibu Hel

18. Linda (23)

19. Mamat (57)

20. Yunita Rahman (22)

21. Mulyadi (25)

22. Bama (21)

23. Rizki (7)

24. Riki



Korban yang masih dicari berjumlah 22 orang:

Siti, Sidik Permana, Pungky Andela, Budi Santoso, Titik Mujiastuti, Doni Marsidi, Sumarko, Sudar, Zahra, Adelwise (2 bulan), Herman (20), Sopian (30), Diah (23), Burhanudin, Rony, Gugun, Wati, Sukamto, Uwin, Resya, Iwan, Yulianto.

Read more...

Maret 18, 2009

Heboh, Anak berwajah Monyet Dari Bone

Septianingsih Abdu, warga Desa Tilangobula, Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, memiliki fisik yang tidak lazim.

Anak berumur sembilan tahun ini memiliki ciri fisik seperti kera. Bagian rahang tampak menjulang ke depan, sementara di sekitar wajah dan sekujur tubuhnya ditumbuhi banyak bulu halus yang lebat.

Menurut warga sekitar, Septi lahir dan tumbuh menjadi tidak normal karena saat masih di kandungan, ibunya Fatma Nusi yang sangat mengidam buah-buahan kerap dikatakan ayahnya anak monyet.

Fatma Nusi mengaku tidak merasakan keanehan saat mengandung Septi. Septi merupakan anak kedua dari tiga bersaudara ini pun sempat dibawa ke dokter untuk diperiksa. Namun, menurut dokter sang anak memang sudah memiliki kelainan genetik sejak lahir.

"Dia pernah dibawa ke dokter. Kata dokter tidak apa-apa, kata dokter ini sudah bawaan dari perut," Jawab Fatma kepada wartawan, Selasa (17/3/2009).

Meski memiliki ciri fisik yang berbeda dengan anak seusianya, Septi tidak diperlakukan beda oleh teman-temannya. Septi bisa bermain layaknya orang normal, bahkan kemampuan intelektual anak kelas dua SD ini tidak kalah dengan murid-murid lainnya.

Sampai saat ini dokter di Gorontalo belum bisa memastikan penyebab perubahan fisik kera ini. Dokter Irfandi yang juga menjabat sekretaris Dinas Kesehatan Gorontalo berencana akan membawa Septi ke Jakarta.

Nah,,buat calon emak2,,,hati- hati ya kalo lagi hamil,,jangan suka ngomong yang jelek2 nti ndak menurun ke si jabang bayi,,,:)

foto : dakta.com


Read more...

tukeran link yuk,,,

Photobucket

Followers

About Me

Foto saya
"Hidup harus ada rencana, jangan biarkan hidup kita berlalu begitu saja tanpa ada rencana, kita butuh tumbuh dan meremajakan diri dan pikiran, agar menjadi manusia unggul. jangan biarkan kita membatu tanpa ada rencana dan cita-cita"

  ©Template by Dicas Blogger.